Ketika Guswan, Lukman, Abdul Jalal, Akhmad, Fadli Isra Saite, dan
Rusmin Nuryadi mendaratkan sandeq di pantai Darwin, maka itulah jarak
terjauh perahu bercadik yang pernah diawaki para mahasiswa, Senin
(21/10/2011). Ratusan bahkan ribuan tahun sebelum tibanya enam anggota
Korps Pencinta Alam Universitas Hasanuddin (KORPALA-Unhas) di Australia,
masih terbenam misteri besar tentang siapakah penemu pertama benua itu.
Ketika waktu belum terpastikan dalam penanggalan dan tempat belum
tergambar dalam pemetaan, saat itulah Baiini atau Baijini tiba di
Australia, bertemu dengan warga Aborigin. Siapapun mereka, tak ada nama
yang bisa tersebutkan, bahkan asal muasal juga masih terentahkan di
wilayah berantah.
National Museum of Australia, menempatkan Baiini
sebagai sosok teratas penemu Australia. Kesimpulan itu berdasarkan pada
Ronald Berndt dan Catherine Berndt dalam Arnhem Land: Its History and
Its People (1954) maupun Les Hiatt dan Kim McKenzie dalam People of the
Rivermouth: The Joborr Texts of Frank Gurrmanamana ( 2002). Urutan
penemu Australia menurut National Museum of Australia yakni the Baijini
gypsies, Macassans (orang Makassar), dan selanjutnya orang Barat.
Interaksi
Aborigin dan Baiini diperkirakan terjadi tak kurang dari abad ke-15.
Sumber tentang Baiini dari dongeng tentang Djankawu/Djanggawul dan
adiknya, Laindjung. Keduanya merupakan mitos nenek moyang Aborigin.
Kisah mereka bertemu Baiini diceritakan dalam versi story cycles.
Story
cycles merupakan berwai yang terus menerus diceritakan secara
berlanjut, tanpa diketahui siapa yang pertama kali membuat alur
legendanya. Setiap orang bisa menceritakan hal-hal baru dalam pengisahan
itu, tanpa merubah isi cerita. Inilah bentuk kompilasi narasi
penceritaan yang bisa dikisahkan oleh siapapun dalam suatu kelompok.
Caranya mereka duduk melingkar, lalu setiap orang bercerita berdasarkan
persepsi masing-masing.
Baiini mendarat di sebelah utara Australia
dan memasak teripang. Di tempat itu juga tempat berlabuh orang Makassar.
Ketika Baiini selesai masak teripang, sendok yang dipakainya menghitam.
Djangkawu menyukai warna baru pada sendok itu dan kemudian
menggunakannya sebagai dasar desain lukisannya.
Hubungan pertama
kedua tetua Aborigin melalui perdagangan barter, ketika itu Djankawu
mendapatkan tali berbulu indah. Lainjung juga bertemu dengan Baiini.
Lainjung diajak makan nasi dari hasil panenan Baiini.
H.W. Monroe
(2011) memberikan deskripsi tentang Baiini yang mananam padi di
Warrimiri dan Gumaidj. Beras itu disebut birida. Ketika sudah dikupas
dari gabah, disebut sebagai luda. Birida secara fonetik cukup dekat
dengan penyebutan berasa’ dalam bahasa Makassar atau beratha dalam
bahasa Aborigin. M. H. Monroe menuliskan detail tentang Baiini dalam
topik Australia: The Land Where Time Began di austhrutime.com
Baiini
tiba di pantai utara dengan menaiki perahu yang disebut lolpheru.
Penyebutan itu mirip dengan sebutan lopi dalam dialek Konjo Makassar
tentang perahu. Dongeng itu punya kemiripan pula dengan cerita
kedatangan pertama orang Makassar dalam kisah Gumatj, Lamamirri, dan
Rirratjilu dari warga Yirrkala.
Hubungan pertama Makassar dan
Aborigin, dikisahkan dalam “Dhimurru Indigenous Protected Area Cultural
Heritage Management Plan 2009 to 2015” yang diterbitkan oleh Dhimurru
Aboriginal Corporation. Kisah awal pertemuan antara orang Yolngu dan
Makassar dipaparkan oleh Gulawu Nurruwuthun (Cooke 1987:22-23), seorang
warga Yirrkala.
Menurut Berndt & Berndt (1954), warga Arnhem
Land kemungkinan memiliki hubungan dalam waktu yang lama terhadap Baiini
melebihi kelompok lain di Australia. Ingatan tentang Baiini tersebut
diwariskan dalam lagu di wilayah timur Arnhem Land. Lagu-lagu warga
Aborigin menceritakan tentang rumah batu Baiini, kain yang ditenun dan
dicelup, kebun-kebun, dan metode menangkap ikan dengan cara ditusuk,
yang tampaknya berbeda dari cara suku Aborigin (Berndt & Berndt,
1964).
Penanda paling kuat bahwa Baiini itu adalah orang Makassar,
karena yang paling memukau orang Aborigin yakni kecantikan perempuan
tersebut. Baine adalah sebutan perempuan secara kelamin dan gender dalam
bahasa Makassar. Baiini dan Baijini adalah perbedaan artikulasi fonetik
dari baine, sebagaimana ketika orang Aborigin menyerap bahasa Makassar
sebagai kosakata.
Ronald Berndt (1964:287) dalam The Gove Dispute :
the Question of Australian Aboriginal Land and Preservation of Sacred
Sites, mendeksripsikan tentang sosok yang paling jelas tentang Baiini,
yang memang perempuan. Deskripsi tersebut berdasarkan kisah mitos
Aborigin yang merupakan satu-satunya bukti tentang Baiini tersebut.
Syair dalam alunan itu diterjemahkan oleh Berndt dan dipublikasikan oleh
Swain (2001). Salah satu bait dalam sajak itu yakni “Baijini datang
lebih dulu dari kami” (Berndt dan Berndt 1947). Peta lokasi kedatangan
Baiini tersebut juga tersedia (Berndt dan Berndt 1954).
Berndt
menggambarkan sosok sang perempuan itu, “Disini seorang wanita Baiini
melahirkan bayi. Baiini dan orang Makassar membuat lahan kebun, menanam
padi, ngarial, yang sekarang tumbuh liar.” Tentang apa itu ngarial,
Berndt tak menjelaskan. Phylis Turner (2006) dalam tesis berjudul The
Colonisation of Australia prior to European Settement juga mengutip
versi ini. Dalam bahasa Makassar, bila ada semak atau rumput apapun yang
tumbuh liar disebut rea atau ngarea. Apakah ngarea sama dengan ngarial?
Sejarah kedatangan Baiini dipublikasikan dalam Arnhem Land : Its
History dan Its People (Berndt : 1954). Semua isi syair gita tersebut
diterima oleh masyarakat Aborigin, tapi para peneliti menganggapnya
sebagai mitos. Berndt sendiri tetap percaya keberadaan Baiini.
“Eksistensi dari pra-Makassar Baijini tak didukung oleh bukti arkeologis
dan dokumentasi ; keberadaan mereka hanya bersumber dari tradisi
masyarakat setempat…Siapa sesunguhnya mereka, tidak bisa dipastikan
(1954: 397).
J. Isaacs dalam Australian Dreaming : 40.000 Years
Aboriginal Dreaming mendukung pandangan Berndt tentang Baiini.
Keterangannya malah memunculkannya adanya mitos yang persis seperti
dalam tradisi lisan Makassar yakni adanya ‘to manurung’ atau makhluk
suci yang diutus dari suatu kosmologi atas. Orang Makassar dan Aborigin
percaya pada varian tingkatan kosmologi. Baiini adalah sosok dari
kosmologi atas, yang datang melalui laut bertemu dengan Aborigin.
Misteri
Baiini, sebagai perempuan Makassar penemu Australia, tak akan tuntas
diungkapan selama laut antara Makassar dan benua selatan itu masih
terasa asin. Satunya-satunya cara membuatnya keasinan itu menjadi tawar
yakni membiarkan Baiini tetap misterius, sebagai entah siapa.